PARTAI KEADILAN SEJAHTERA

You are here: Home The News Ahmad Jajuli: Cerita 1 Bulan Pertama Menduduki Kantor Baru

Ahmad Jajuli: Cerita 1 Bulan Pertama Menduduki Kantor Baru

E-mail Print PDF

Tepat tanggal 1 Oktober Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah (DPR-DPD-RI),

dilantik dan diambil sumpah setianya kepada negara. Satu diantara mereka adalah Ahmad Jajuli, yang dilantik sebagai anggota DPD untuk utusan Lampung. dari empat orang yang terpilih, Jajuli masuk urutan ke dua teratas dengan perolehan suara... dari masyarakat Lampung.

Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un itulah kata pertama yang terucap dari bibirnya manakala dirinya dilantik secara resmi di Gedung Senayan Jakarta saat itu. ”Saya tidak pernah mimpi jadi pejabat publik, dari kecil saya selalu bercita-cita ingin menjadi guru,” kata dia.

Menurutnya, pekerjan sebagai guru adalah pekerjaan yang mulia dari sekian banyak profesi. Karena dengan menjadi guru, kan menghantarkan anak didiknya menjadi generasi yang bermoral dan berakhlaqul karimah, dan dari guru itu jualah yang menhantarkan ke surga.

Namun demikian, takdir suami Endang Legiarti ini berkata lain. Allah menghendaki dirinya menjadi pejabat publik. Ini merupakan periode yang ke dua kalinya ia menjadi corong rakyat. tahun 2004-2009 sebagai Aleg DPRD Provinsi Lampung. Pernah menjabat sebagai ketua Komisi E (Sekarang sudah dileburkan ke komisi D-pen), namun akhirnya harus dihentikan secara paksa karena rekan kerjanya yang merasa tidak nyaman dengan sistem kepemimpinannya yang Bersih, Peduli dan Profesional.

Kemudian periode ke dua, lelaki berkacamata ini, naik lebih setingkat. Yah, menjadi anggota DPD utusan Lampung. Orang bilang, anggota DPD ini punya peran seperti senator (jabatan seperti Barack Obama sebelum menjadi Presiden AS). Meskipun Jajuli punya jabatan yang berlente, tapi lelaki kelahiran Baros ini, tetap saja berkepribadian guru. Hingga dirinya menjabat sebagai senator, ia masih punya waktu untuk membagi ilmunya melalui ceramah-cemarahnya di majelis taklim di sudut-sudut perdesaan bumi Ruwa Jurai. Kepribadian guru inilah, yang membuat dirinya tetap berpembawaan sederhana hingga saat ini.

**

Meskipun dunia politik bukan cita-cita yang harus ia kejar dalam hidupnya, namun saat ia diamanahkan sebagai wakil rakyat, Uli (panggilan akrab Jajuli-pen) merupakan termasuk politikus handal. Kepentingan yang berpihak pada rakyat, akhirnya banyak menjadi sebuah kebijakan di parlemen melalui sumbang pemikirannya dan kepiawaiannya dalam menyampaikan sebuah ide.

 

Asal diketahui saja, diantara empat anggota DPD asal Lampung, Uli termasuk yang dituakan dalam tim Lampung. Sepertinya rekan kerjanya tidak afdol menentukan keputusan jika tidak mendapat pertimbangan dari Uli. Kerana kepiawaiannya ini, saat ini ia menjabat sebagai wakil ketua Panitia Hubungan antar Lembaga (PHAL) dan anggota komite tiga bidang kersa, yang menangani masalah pendidikan, kesehatan, agama, pemuda, perempuan dan masih banyak lagi.

**

Ada cerita menarik pada satu bulan pertama dirinya pindah kantor di Senayan Jakarta. Hari itu bertepatan dengan pelantikan Presiden Republik Indonesia (RI), Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY). Maklumlah, Jajuli penduduk baru Ibu Kota Jakarta, masih butuh waktu untuk menyesuaikan diri sebagai penduduk kota metropolitan.

Pagi sekali dirinya sudah mempersiapkan diri untuk menghadiri pelantikan orang nomor satu di negeri ini. Baik dari still pakaian sampai perkiraan tepat waktu sampai tujuan. Supaya terhindar dari kemcetan ibu kota, maka ia putuskan untuk berangkat naik taksi dari rumah mertua di Kebon Jeruk. ”Saya tidak tahu, kalau pada acara kenegaraan pasti ruas jalan disekitar Senayan pasti di tutup,” kisahnya.

Ia menceritakan, idealnya, lewat Jalan Slipi Kebayoran Lama bisa lebih cepat dari rumahnya. Tapi ternyata, di jalan tersebut macet total. ”Akhirnya saya minta jalan alternatif menuju ke Senayan pada sopir taksi. Sang sopir menyarankan lewat Jalan Fatal Senayan,” Jajuli melanjutkan kisahnya.

Ternyata, sekian penduduk Jakarta punya pemikiran yang sama. Akhirnya Jajuli terjebak lagi dalam sebuah kemacetan. ”Waduh, padahal jaraknya sudah sangat dekat. Karena saya juga khawatir telat mengikuti prosesi pelantikan SBY, akhirnya saya minta berhentikan,” tuturnya.

Ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju gedung itu dengan menggunakan jasa ojek. Teranglah, tukang ojek merasa keberatan menghantarkan dirinya ke gendung wakil rakyat itu, wong gedung itu hanya bisa dimasuk kendaraan yang sudah punya kode masuk. Lah, tukang ojek diajak masuk sama ayah dari Iman Ibrahim, teranglah si tukang ojek nolak, takut kena pluit pak satpam (he3x..). tapi yah, namanya juga bapak senator, pandai saja meyakinkan abang tukang ojek ini. ”Saya punya undangan untuk masuk kesana, tenang aja,” katanya pada tukang ojek yang sontak bengong.

Jajuli mengisahkan, abang ojek itu tidak percaya kalau dirinya adalah pejabat publik. Meski begitu, tukang ojek ngeloyor juga mengantarkan Jajuli ke gedung senanyan. ”Dalam hatiku, ya Allah, rambut sudah kelimis, kemeja sudah disetrika licin, dasi sudah maching, jas sudah berlente, terpaksa jas dan dasi harus masuk berdesakan ke dalam tas sangkol bawaanku,” kisahnya sambil tertawa.

Sesampainya di gerbang senayan, betul saja, ojek yang ditumpangi Jajuli dipluit satpam senayan. ”Aku sudah persiapkan undangan pelantikan dan langsung aku tunjukkan pada satpam setempat, tanpa basa-basi, akhirnya aku sampai tujuan,” lanjut ceritanya. Sesampainya di sana, ia menyempatkan diri masuk ke dalam ruang kerjanya, guna merapikan penampilan rambut dan pakaian yang sempat berantakan karena tertiup angin saat naik ojek.

Begitulah pribadi Ahmad Jajuli. Sederhana dan tidak terjebak dengan pelayanan dan kemewahan selaiknya pejabat publik. Ia cenderung lebih senang, manakala ada orang yang tidak mengenalnya sebagai pejabat publik. ”Aku bisa lebih leluasa melakukan sesuatu dan lebih bebas menikmati hidup selaiknya manusia biasa,” pungkasnya.[Amah Kaysa]

 

Last Updated ( Monday, 08 February 2010 17:02 )